Tampilkan postingan dengan label Intermezo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intermezo. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 April 2016

Dilemma


Ku hitung berapa kali kaki ini melangkah.
Ku ukur setiap jengkal jarak yang telah ku tempuh.
Ku jejali mimpi dan harapan.
Ku telan semua cerita kehidupan.


Aku tak pernah berharap setetes embun jatuh mengusap dahaga.
Aku tak berharap seberkas cahaya menerpa nestapa.
Tak kuharap pula rembulan untuk sekedar menyapa.


Aku tak ingin cinta
Bukan karena aku tak percaya
Aku tak ingin rindu
Bukan karena aku tak mau


Aku hanya tak ingin suatu saat kau akan berkata
"Aku harus pergi."


Karena bukan kehilangan yang aku takutkan akan menyakitiku.
Tapi aku takut tenggelam terlalu dalam ke dalam cintamu.
Lalu kau meninggalkanku.



By : ALIT SUGANDA









Rabu, 02 Maret 2016

Semua-mu dan Semua-nya

Ketika kau pikir semua berpaling darimu...
Ketika kau berpikir semua menjauh darimu...
Yang kau panggil "semua" adalah apa yang kau gilai,
Yang kau panggil "semua" adalah siapa yang kau cintai,
Yang kau panggil "semua" adalah yang kau damba.

Namun kau tak sadar,
Bahwa ada yang menyebutmu sebagai bagian dari "semua"-nya,
Bagian dari SEGALA-nya.
Ada, di sana di sisi ruang yang tak pernah kau tatap,
Tak sudi kau berpaling untuk sekedar melihatnya
Tak sudi kau meluangkan waktu untuk sekedar menyapanya.
Dia,
Seseorang yang menggilaimu,
Seseorang yang mencintaimu,
Seseorang yang mendambakanmu.

Selasa, 01 Maret 2016

Uniqly Family : Kisah Tauladan dari Kak Irine (Sang Bapak)

Keluarga. Saya sangat senang mendengarkan kawan atau siapapun bercerita tentang kehidupan keluarga, apa lagi kalau itu kisah lucu. EITS!!! BUKAN UNTUK MENERTAWAKAN! Tentu saja, bukan. Karena sebenarnya dari kisah lucu dan unik itu saya malah bisa belajar sesuatu.

Perbincangan Bermula.

Dengan mata sipit dan wajah seperti orang Jepang itu dia duduk. Kini tubuhnya sedikit tampak padat, tapi sama sekali tak menghilangkan setiap kesan yang saya kagumi dulu dari Kakak Kelas yang sebenarnya seumuran denganku itu. Aku hanya duduk di kursi plastik di kamar penginapan, sedangkan tergeletak santai di atas kasur sahabatku Jemi. Di kursi lain ada partner saya Djuma.

"Kalau aku, mungkin kita kalau certita tentang masa sulit dulu kan pasti ketawa kan?" Dia berkisah dengan logat jawanya yang sedikit hilang.
"Iya kejadian miris kayak kita misal uang saku lima ribu semingu dan seterusnya." Tambahnya.
"Iye, he ehm." Jawab kami.
"Kalau kita cerita sama teman pasti kan ketawa ya? Karena jadi lucu." Terangnya.
"Tapi, aku punya teman memang sejak kecil udah kaya jadi pas kita cerita begitu kita udah heboh ketawa eh dia cuma bilang 'kok aku gak gitu ya, gak gini ya.' Gitu." Dan sebuah kisah lucu dan bermaknapun bermula dari prologue tersebut.

Cara Seorang Ayah Mencintai dan Melindungi Anaknya.

Googling for Father Photograph

Aku masih melihatnya sebagai seniorku dulu di salah satu kegiatan ekstrakulikuler, dia memang gemar bercerita dan gemar berbagi dan hal yang paling membuatku nyaman sejak dulu adalah karena dia selalu mau mendengarkan ketika siapapun berbicara, itulah kenapa aku tak jengah mendengarkan dia bercerita, karena aku hanya akan jengah mendengarkan cerita dari seseorang yang tak mau mendengarkan orang lain bercerita.

"Bapkku tuh dulu Unik kok memang." Ceritanya. Kami masih mendengarkan.
"Ada satu kejadian waktu dulu aku STM." Tambahnya.
"Dia kan Bapakku nganterin aku ke halte Bus deket rumah." Kisahnya.
"Dan kalian tahu apa?" Seperti dulu, dia masih bisa menyisipkan drama di setiap kisahnya.
"Waktu aku naik, Bapakku teriak ke keneknya." Jawabnya mengabaikan kami yang masih diam mendengarkan.
"Pak ati-ati kui wonge rodo edan!" (Pak hati-hati itu orangnya agak gila!) Kelakarnya menirukan Sang Ayah yang meneriakinya saat itu.

Kami tertawa mendengar kisahnya, tak terkecuali dia.

"Memang unik kok Bapakku tuh!" Hanya itu yang keluar dari bibirnya di sela - sela senyum gelinya.

Pesan Yang Saya Dapat...

Lucu? Memang. Tapi, ada yang lebih dari sekedar lucu yang kami dapatkan.

"Oh berarti itu adalah cara Bapakmu menjagamu kak!" Simpulku.
"Iya jadi kan dia sebenarnya mau melarang kamu buat pacaran dan takut kamu digodain. Jadi Bapak kamu teriakin begitu biar semua orang di Bus dengar dan gak ada yang mau dekat sama kamu!" Timpal Jemi menerangkan.
"Iya biar pada mikir dua kali kalo mau deketin!" Sambar Kak Irine.

Aku jadi teringat perbincanganku dengan Djuma beberapa waktu lalu yang berujung pada sebuah kesimpulan.

Cara seorang Ayah untuk menunjukkan kasih sayang untuk anaknya itu berbeda.
Dia menujukannya dengan cara yang unik.
Diamnya adalah rasa takut kehilangan yang dia pendam.
Dia tak pernah mengeluh dan tak pernah berbicara apapun tentang rasa takutnya.
Karena dia khawatir orang - orang yang dia cintai berpikir
bahwa mereka mempercayakan hidup mereka pada orang yang salah.
Ego Ayah adalah melindungi, mengayomi dan menjaga.
 Hargai dan pahamilah dia, Ayahmu.
-Us-

Senin, 29 Februari 2016

INTERMEZO : Ragunan 06 September 2015

Belum dapat ide lain. Ya sudah minta difoto ajalah dulu. Hahahahha.


Dancing In The Zoo
I just wanna dance with my self, feeling my self.
Nobody can control me but ME.
-ME-

Senin, 22 Februari 2016

Dangerously In Love


I am in love with you
You set me free
I can't do this thing
Called life without you here with me
'Cause I'm dangerously in love with you
I'll never leave
Just keep lovin' me
The way I love you loving me

'Cause I am in love with you
You set me free
I can't do this thing
Called life without you here with me
'Cause I'm dangerously in love with you
I'll never leave
Just keep lovin' me
The way I love you loving me
-Beyonce Knowless_Dangerously In Love-

The best part of being In Love is when You fall for someone.
There's a lot of things that kept you loving the way how love hurts.
When You find the right person, there'll be something that knocks you down.
When You think you're in the right time to loving someone, there'll be nobody there who'll love you in return.
Why is love is so complicated?
But the only fact is The best thing of love is when you know who deserves your love.


Sekedar Intermezo : Sahabat dan Tetua Saya

Sudah cukup lama saya berhenti menuliskan segala uneg - uneg saya di Blog ini. Dan baru sekarang saya sempat untuk kembali log in ke account saya. Terlebih sekarang urusan naskah saya hanya tinggal mengirim revisi saja. Ya, sebenarnya banyak yang ingin saya bagi, mulai dari pergantian tahun di Pangandaran & Banjar Patroman, Perjalanan Rodi saya ke Painan, Sumatera Barat hingga perjalanan kemarin ke Bangka Belitung.

Tapi sebelum itu, ada hal yang sangat ingin saya bagi, bukan untuk menggurui, bukan pula untuk mendoktrin. Ya, hanya sekedar berbagi pemikiran saja. Sebelum akhirnya saya berangkat Kamis, 18 Februari 2016 lalu, saya sempat bertemu dengan Mantan PM saya, beliau bernama Bapak Andi. Jujur saja, dari segi pendidikan mungkin beliau bukan lulusan universitas mana - mana, tapi beliau adalah salah satu dari orang yang setiap kata - kata dan nasehatnya sebagian besar saya dengarkan.

Pahit, manis saya dulu lalui bersama beliau, jadi mau sampai kapanpun beliau tidak akan menjadi mantan saya, beliau akan selalu menjadi sahabat, dan tetua bagi saya. Teringat satu perbincangan dengan beliau tiga tahun lalu.

"Umur mu pira?" (Umurmu berapa?) Beliau bertanya dengan logat surabaya kental.
"Selikur Pak, lah ngopo?" (21 Pak, kenapa?)  Jawab saya sekenanya, saat itu usia saya masih 21.
"Halah jeh enom jebul!" (Ya elah masih muda ternyata!) Responnya sedikit membuat saya bingung.
"Umur semono ki umur - umure dolan. Ojo dientekke nggo gawe!" (Umur segitu tuh umur - umurnya main. Jangan dihabisin buat kerja!). Lanjutnya.
"Kerjo oleh, nang dolan kudu!" (Kerja boleh, tapi main harus!) Tandasnya.

Sebenarnya saya berpikir bahwa memang saya anak yang kurang main sejak dulu, kalimat beliau bagi saja tak seperti hanya sekedar bercandaan kopong saja, tapi terdengar seperti nasihat, sindiran dan wejangan. Hingga sampai akhirnya kemarin kami bertemu perbincangan itu masih terngiang di telinga saya.

"Urip ki koe teko/lahir gak gowo apa - apa.
Balik/mati yo gak gowo apa - apa!
Nak udhu koe sing nggawe enak ameh sapa meneh?"

artinya.

"Hidup tuh kamu datang/lahir tidak membawa apa - apa.
Balik/mati juga gak bawa apa - apa!.
Kalau bukan kamu yang bikin enak mau siapa lagi?"

-Andi-