Tampilkan postingan dengan label Air Terjun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air Terjun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2016

Leuwi Hejo : Obsesi Foto Underwater


Perjalanan kali ini tidak di dasari rasa penasaran atas lokasi yang akan saya tuju, melainkan didasarkan obsesi untuk Mencoba mengabadikan foto Underwater. Dan satu - satunya pilihan di akhir minggu 10 April 2016 kemarin jatuh pada Curug Leuwi Hejo yang beberapa minggu lalu ditutup karena ada kejadian pilu yang sebelumnya terjadi.


Tapi saya, tak bermaksud membahas kejadian itu, yang sudah terjadi biarlah terjadi dan jadikanlah itu sebagai memori dan pelajaran serta jangan lupa terus panjatkan doa untuk keselamat diri sendiri dan orang lain serta doa atas pengampunan tuhan untuk mereka yang sudah tiada. Amin.

Oke, intinya perjalanan menuju Curug Leuwihejo berakhir pada pukul 6.30 am pagi itu. Wow dan ternyata beruntungnya saya, lokasi masih lengang dari pengunjung.

So, ini dia hasilnya. Tak begitu sempurna tapi cukup memuaskan lah untuk sekedar trial Handmade Dome untuk foto underwater. Hahaha. Enjoy!




Ada Video juga yang sempat saya edit dengan beberapa aplikasi di Ponsel.

Trial 1

Trial 2

Trial 3

Sudah dapat dan sudah mulai ramai. Pukul 01.00 pm saatnya untuk pulang. Eits, Narsis dulu ya satu kali aja. Hahhaha.

Adios




Senin, 29 Februari 2016

Curug Kantri, Tanjung Sari & Curug Sangiang, Gunung Batu 2 (Belajar Dari Kekecewaan & Mengambil Hikmahnya)

Setelah sekitar terpuruk dalam rasa kecewa dan kungkungan ekonomi yang terus membayangi. Setelah perjalanan ke Curug Parigi 02 Agustus 2015 itu, kami akhirnya memutuskan untuk kembali mencari alternative hiburan lain di Kota Jakarta.

Akhirnya pilihanpun jatuh ke Curug Kantri di desa Tanjung Sari untuk perjalanan kami selanjutnya tanggal 16 Agustus 2015.

16 Agustus 2015.

Akhirnya tanggal yang kami tunggu - tunggu sudah datang. Meski sedikit gambling karena saat itu musim kemarau, kami tetap nekat untuk berburu dengan bermodal HereDrive di Lumia 730 milik saya dan juga info yang kami dari dapat dari beberapa blogger tanah air. Akhirnya kamipun nekad menuju TKP.

Sunrise yang sepertinya sama


Ternyata di perjalanan kami, kami baru ingat bahwa ternyata rute yang kami tempuh sama dengan rute untuk menuju Gunung Batu beberapa bulan lalu. Dengan bermodal GPS dan bertanya pada penduduk setempat akhirnya kami menemukan tempatnya. Areanya memang memasuki sebuah perumahan yang memang sepertinya tidak selesai.



Sampai di pintu masuk, kami sempat mampir dulu di sebuah warung dan sempat bertanya - tanya beberapa hal dengan sang abang dan teteh penjaga warung. Ternyata memang pembangunan perumahan ini terbengkalai karena adanya protes warga akibat rencana pembangunan gereja yang ada di sana. Padahal pemilik tanah yangmerupakan haji sebenarnya sudah mengijinkan namun karena ada pro- kontra akhirnya ya sudahlah tunda dulu saja.

Tak lama karena tak sabar dan tergitu akibat beberapa foto yang ada di google, kamipun bergegas meuju area air terjun.

Hijau


Sampai di area air terjun, ternyata kekhawatiran kamipun dibenarkan oleh kondisi area air terjun yang kering. "Hmmm!" Ada kekecewaan di sela deheman dibibir saya.

Curug Kantri
Namun meski begitu, kami bisa membayangkan keindahan jatuhnya bergalon - galon air di musim hujan.

Semoga kami bisa kembali.

Tanggung Jalan Jauh...

Akhirnya karena tanggung, kami sempat bertanya pada si pemilik warung tadi, mana lagi yang bisa kami kunjungi. Dia Bilang Curug Sangiang di Gunung Batu Dua. Akhirnya meski dengan rasa pesimis kami tetap menjajal untuk menuju ke area Gunung Batu Dua. Ternyata memang benar itu dekat dengan Gunung Batu Satu yang pernah kami kunjungi dulu.

Dan Yup memang air terjun Sangiang pun kering. Kami tak berlama - lama di sana selain panas karena kamipun bertemu seekor binatang yang tidak menggemaskan dan sangan berciri khas. Ular. Saya yang memang takut ular enggan untuk menetap lebih lama lagi. Akhirnya kami pun turun dan beristirahat di warung gubuk yang berada di seberang kali.

Kecew? Sedikit, namun tidak juga. Karena saya yang memang penat dnegan kehidupan di Ibu Kota setidaknya bisa sedikit menghirup segarnya udara pedesaan.

Kerja Bakti para Petani daerah sekitar

Partner

Memandang Puncak 1

Langkahkan saja!
Hidup tak hanya berisi penerimaan dan kebahagiaan.
Tapi juga penolakan dan kekecewaan.
Hadapilah!
-ME-



Minggu, 28 Februari 2016

CURUG PARIGI (Semoga Akan Membaik)

2 Agustus 2015

Sebenarnya perjalanan ini kami lakukan bukan karena hanya penasaran saja tapi memang karena budget dan waktu yang kami punya benar - benar kami batasi. Karena berbagai alasan meski sedikit pesimis akhirnya kami menjatuhkan pilihan ke daerah Bantargebang, Bekasi dengan modal info dari salah satu Blog yang mengatakan bahwa "Curug Parigi, Niagara di Indonesia." Niagara di dekat tempat pembuangan sampah, "What A Miracle!!!" Pikir kami. Sedikit pesimis kami segera menuju tempat itu, dan memang sedikit memusingkan karena terletak di belakang pabrik - pabrik. Saya tak ingat detailnya yang jelas kami akhirnya menemukannya.

Curug Parigi Saat Itu


Hmm agak kecewa sebenarnya melihat warna air yang kotor, bahkan kalau diedit dengan photoshop pun akan semakin tampak aneh. Selain itu juga warung - warung di tempat motor parkir, para penjajanya agak kurang ramah.

Ada satu cerita saat kami bermaksud membayar uang parkir tiba - tiba salah satu pedagang berkata

"Bayar Parkirnya Bang!" Dengan wajah jutek.

"Memang saya mau bayar!" Reflek sayapun nyolot, karena memang si Ibu itu sepertinya ingin kami membayar parkir padanya, tapi alih - alih membayar padanya saya lebih memilih bayar ke salah satu Bapak dari warung lain yang kebetulan membantu kami.

Ya, sebaiknya Si Ibu merawat dulu itu curug sebelum meminta bayaran ini itu ke pengunjung. Itu sih saran saya.

Senin, 01 Juni 2015

Leuwi Lieur : Akhir Destinasi dan Kembali Diiringi Sunset

Menuju Leuwi Lieur

Setelah tidak berapa lama kami mendaki jalan setapak di sisi tebing, kami berdua akhirnya sampai di pintu masuk Leuwi Lieur, kami hanya perlu mengeluarkan Rp 5.000,- per orang untuk dapat menikmati pesona Leuwi Lieur. Perjalanan menuju area Leuwi yang berarti Sungai dan Lieur berarti pusing, kami menuruni jalan yang cukup curam, hingga akhirnya sampai di lokasi, kami terpesona dengan kontras warna antara beningnya air yang menerpa bebatuan yang berwarna kemerahan ditambah pancaran sinar mata hari membuatnya semakin tampak indah.

Terik Matahari tidak bisa menahan kami untuk menikmati pemandangan indah di area Leuwi, namun kami enggan untuk kembali bermain air, selain karena malas berganti pakaian, juga karena area itu cukup dipenuhi pengunjung. Kamipun hanya duduk di sekitar bebatuan dengan membuat camp dari jaket dan pakaian basah kami yang kami tumpuk di atas kayu - kayu yang kami bentuk menjadi atap. Sungguh indah apa yang sudah Tuhan sajikan di depan mata saya, membuat saya semakin memahami apa arti kata Syukur.

Leuwi Lieur 1
Warna indah saat ditempa Matahari
 
Leuwi Lieur 2
Para Penikmat

Leuwi Lieur 3
Warna sejuk saat Matahari tertutup awan
Leuwi Lieur 12
Maaf untuk hobi yang satu ini

Leuwi Lieur 13
Narsis Terakhir


 Perjalanan Pulang

Perjalanan pulang menjadi kisah lain dalam kunjungan alam kami kali ini, saat menuju Area Parkir Dua kami terkejut dnegan jumlah kendaraan yang terparkir, ternyata sangat padat. Kamipun segera memacu motor dan ternyata Area Parkir Satu pun sudah penuh oleh sesak mobil dan motor yang terparkir. Kami merasa beruntung karena kami sudah cukup lama menikmati keindahan alam sebelum pengunjung lainnya tiba lebih banyak.

Leuwi Lieur 4
Menuju Tempat Parkir
 
Leuwi Lieur 5
Partner in Crime

Leuwi Lieur 6
Sudah Padat


Di tengah jalan kami beberapa kali berhenti, ada satu titik saat kami berhenti karena saya ingin mengabadikan lukisan jajaran pegunungan yang hijau. Saat saya sedang berdiri di sisi jalan berlubang, tiba - tiba terdengar sebuah suara sedang berbicara dengan partner saya yang sedang duduk di atas motor sambil mengabadikan pemandangan yang juga sedang saya ambil gambarnya.

Leuwi Lieur 7
Berhenti Sesaat

Leuwi Lieur 8
Mengambil Beberapa Gambar


"Bang kalau mau foto bayar dulu!" Suara anak - anak kecil itu membuat saya menoleh.
"Bayar buat apa? ini punya alam, ini Tuhan yang punya bukan kalian." Dengan reflek partner saya menjawab.
"Buat apaan bayar? Punya siapa emang ini?" Ketus saya yang sedikit kesal dengan kelakuan anak - anak kecil yang sudah berani malak itu. Mereka langsung terdiam memperhatikan saya. Sebenarnya kami tidak bermasalah kalau memang kami harus membayar kalau memang ada ketentuan dan kalau memang area itu terawat dan dijadikan area wisata, atau setidaknya dengan adanya pungutan - pungutan liar yang dilakukan anak - anak itu, hasilnya dipergunakan untuk memperbaiki akses yang bisa saya bilang superberantakan itu. Menyebalkan, jujur saja saat itu saya kesal. Tapi sudahlan toh mungkin mereka ingin jajan permen.

Leuwi Lieur 9
Kembali Berjumpa Ray of Life di Jembatan Kayu

Leuwi Lieur 10
Way Back Home

Leuwi Lieur 11
Segar


Ditemani Sunset

Perjalanan pulang kami tidak kalah indah, setelah sempat mampir makan di warung yang sebelumnya kami mampir saat menuju lokasi, kamipun melanjutkan perjalanan. Sekali lagi melewati area Sentul yang saya kagumi dan bahkan kali ini terasa lebih indah karena bertepatan dengan waktu di mana Sang Mentari terbenam.

Leuwi Lieur 14
Kembali Memasuki Sentul

Leuwi Lieur 15
Unik

Leuwi Lieur 16
Pepohonan di daerah Sentul

Leuwi Lieur 17
Mulai Terbenam

Leuwi Lieur 18
Semakin Menjauh

Leuwi Lieur 19
Perfect Trip
 
Leuwi Lieur 20
Refraction

Leuwi Lieur 21
Meninggalkan Sentul

Leuwi Lieur 22
Salam Senja

Leuwi Lieur 23
Kecupan Terakhir Untuk Sentul yang Mengagumkan


Perjalan kali ini sekali lagi menjadi anugerah yang begitu indah bagi kami. Satu yang saya ingat ketika menjejaki Curug Bengkok Leuwi Hejo pagi tadi, ada sebuah plang dari kayu yang dipaku di sebuah batang phon dan bertuliskan.

"Kita Tidak Mewarisi Bumi Dari Nenek Moyang,
Tapi Kita Meminjamnya Dari Anak Cucu."

Tidak ada alasan untuk kita merasa memiliki alam hingga membuat kita hanya mau mengambil keuntungan saja dari apa yang tersedia di dalamnya. Ingat Alam menghidupi kita apakah kita sudah cukup membalas budinya?

Cerita Keindahan di Curug Barong

Melanjutkan...

Setelah menikmati keindahan hijau nya air di Curug Bengkok Leuwi Hejo, kami berdua melanjutkan perjalanan menuju Curug Barong dengan mnapaki tanah yang menanjak. Perjalanan cukup berat walau hanya membawa dua botol Aqua satu liter di dalam ransel saya, dan walaupun tidak begitu tingi, namun medan yang kami tempuh sama sekali tidak bisa di sepelakn, mulai dari diagonal tanah yang cukup menjulang, juga jalanan setapak di tepi tebing, namun selalu ada keindahan yang tersedia setiap kita mau melakukan dan menjalani beratnya rintangan yang ada di depan mata, bukan begitu?

Sekitar beberapa menit, mungkin sekitar dua puluh atau dua puluh lima menit saya tidak bisa memastikan, yang saya tahu jarak yang kami tempuh dari area Curug Bengkok ke Curug Barong menurut penerangan Si Abng penjaga toilet, yaitu sekitar setengah kilometer. Satu - satunya pegangan yang kami miliki saat itu adalah Tuhan. Karena sesulit apapun bila dia mengijinkan maka kami akan bisa mencapainya.

Curug Barong 1
Perjalanan Berlanjut

 Curug Barong

Curug Barong dan Curug Bengkok Leuwi Hejo memang sama - sama tidak memiliki terjal air terjun yang tinggi, namun bebatuan besar yang menumpuk dan menyediakan celah di setiap sisinya seolah membuat tangga bagi air yang mengalir dari ketinggian.

Are di Curug Barong lebih sempit, hanya tersedia area Curug dan beberapa kolam yang menjadi wadah air sebelum kembali mengalir, tidak ada warung ataupun sekedar saung untuk tempat bersantai. Di sini kami merasa sedikit nyaman karena tidak terlalu ramai. Namun, tak lama mulai muncul beberapa gerombolan pengunjung yang datang hingga akhirnya kami memutuskan untuk turun dari Curug paling atas di Curug Barong menuju Curug di bawahnya. Dengan menggendong tas dan menjinjing sepatu saya menyeberangi aliran air di Curug Barong paling atas untuk menuruni tumpukan bebatuan, namun sayang sekali karena pijakan kaki saya di batu kurang tepat, sayapun terpeleset hingga terbaring, namun beruntung tidak ada yang basah dan tidak ada satupun bagian tubuh saya yang merasa sakit, bahkan saya tidak merasa malu sama sekali. Hahahha.


Curug Barong 2
Curug Barong

Curug Barong 3
Narsis Dulu

Curug Barong 4
Lebih Dekat

 Mandi di Area "Private"

Di aliran Curug ke dua kami berdua memberanikan diri untuk menikmati dinginnya air di sana. Para pengunjung sepertinya lebih tertarik berada di atas dan di Curug Bawah kami yang areanya lebih luas, atau mungkin karena beberapa pengunjung yang baru datang melihat kami dengan kamera di tangan membuat mereka enggan untuk mengganggu kami. Tapi untunglah, dengan begitu kami beberapa kali berhasil mengabadikan keindahan dan betapa narsisnya kami.


Curug Barong 5
Aliran di Curug ke dua

Curug Barong 6
Bersenang - Senang

Curug Barong 7
Mulai Narsis

Curug Barong 8
Pegang Batu-1

Curug Barong 9
Pegang Batu-2

Curug Barong 10
Kumat

Curug Barong 11
Di sini jadi area narsis

Curug Barong 12
Hahaha

Curug Barong 13
Main Air

Curug Barong 14
Basuh

Curug Barong 15
Imperfect

Curug Barong 16
Menunggu Para Bidadara yang sedang mandi

Curug Barong 17
Serasa Jaka Tarub


Perjalanan Kembali Berlanjut...

Setelah cukup puas menikmati segarnya air di area "Private" kamipun sebera berganti pakaian di balik tumpukan bebetuan yang membentuk seperti sebuah Goa. Kami tak langsung beranjak dari area Curug Barong, kami smepat beristirahat, bahkan saya sempat tertiduru untuk beberapa saat di area bebatuan yang kering di sisi Curug. Saat terbangun saya mendengar beberapa orang yang bercerita tentang salah satu pengunjung yang hampir tenggelam di kolam air terjun yang berada di atas. Kalau saya tidak salah dnegar, lelaki muda itu melompat dari atas batu ke dalam kolam tempat jatuhnya air, namun berhasil di selamatkan. "Alhamdulillah" ucap saya dlam hati.

Kami beranjak dari area Curug sekitar jam satu. Di persimpangan, kami kembali membaca petunjuk jalan, saya penasaran dnegan Leuwi Lieur yang tertulis di sana? Kami sempat berunding dan memperhitungkan jam untuk memutuskan apakah kami mau menjajal Leuwi Lieur atau sudah saja? Karena jujur saya merasa penasaran.

Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan untuk mencicipi keindahan Leuwi Lieur.

Di mana bumi di pijak di situ langi di junjung.
Seberapa kuat kita, seberapa hebat kita, sekaya apapun kita dan sepintar apapun kita,
Tuhan bukan tandingan.
Alam bukanlah arena bermain meski dia menyediakan keindahan yang pantas untuk kita jamah.
Tuhan menyajikan alam untuk kita belajar, untuk kita memahami tak hanya untuk kita nikmati.