Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2016

Gunung Pancar (Ke dua kalinya) : Menikmati sajian senyum dari kaki kaki mungil.


Masih Cukup Tebal

Kali kedua saya ke sini di pagi hari dan semoat diguyur hujan yang cukup deras di tengah perjalanan.
Namun saat tiba, akhirnya pengorbanan terbayar dengan cukup impas saat melihat masih ada kabut yang cukup tebal berjejal memenuhi atmosfer di sela - sela jajaran pohon - pohon pinus.





Saat Sang Mentari mulai tinggi, pendatang mulai datang satu persatu. Namun ada yang selalu menarik perhatian saya saat pengunjung mulai memadati area tempat wisata ini. Yaitu kehadiran anak - anak sekitar yang menawarkan sewa tikar. Dan terkadang mereka asyik bermain sambil menunggu kedatangan pangunjung.

Playground
Dan beruntung hari ini saya cukup banyak menyaksikan senyum riang di setiap langkah kaki kaki kecil itu.




Entah kenapa saya selalu tenggelam dalam dunia itu setiap kali saya melihat gelak tawa dan keriangan anak - anak kecil seperti mereka.









Saat anak - anak itu kembali pada bisnis mereka, akhirnya saya memutuskan untuk sekedar berkeliling sesaat lalu pulang.



Mari Pulang.... Sampai Jumpa lagi.



Senin, 29 Februari 2016

Gunung Batu, Puncak 1 ke dua (Mati Itu Pasti.)

Akhir Bulan Oktober

Kami berangkat pagi sekali menuju tempat yang sudah pernah kami kunjungi. Sudah tak perlu untuk saya terangkan lagi rute perjalanannya karena sudah saya pernah post sebelumnya dan saya tak mau repot mengingatnya lagi *Emot Nyengir*.

Sampai di pintu masuk, ternyata parkiran pagi itu kosong dan ternyata memang beberapa waktu lalu di sana sempat ada longsor. Tapi kami tak mau mengurungkan niat kami semula, akhirnya kami tetap melangkahkan kaki.

Ternyata jalur daki saat ini sudah diubah, bermula di dekat pintu parkir bagian dalam. Dari situlah perjalanan kami mulai.


Tuhan Selalu Membuatku Jatuh Cinta.
Kali ini saya ingin benar - benar sampai atas, karena di kunjungan pertama kami, kami enggan sampai atas karena terlalu penuh. Tapi kali ini sedikit lengang dan kamipun bertekad sampai puncak.



Di sela - sela tanjakan kami sempat istirahat karena ternyata jalur sempit yang dulu itu kini semakin smepit dan tak lagi dipagari ilalang, tampak bekas longsorang tersisa di sana, lagi pula kami memang harus bergantian dengan beberapa orang yang mau turun. Dan ada satu kejadian yang mmebuat saya terkejut, salah satu pendaki yang sedang turun hampir saja terjatuh setelah terpeleset batu tepat di jalur yang menyempit itu. Beruntung tak sampai jatuh.

Perjalanan kami lanjutkan hingga akhirnya kami berhasil sampai di puncak Gunung Batu.

Bukan Lelahnya tapi Acrophobianya

Beranjak Siang
Ada yang menyita perhatian saya saat berada di puncak. Ya itu sebuah monumen peringatan akan salah satu pendaki yang menjadi korban di sana. Kalau saya hitung kurang lebih empat hingga lima bulan kunjungan saya ke sini.

In Memoriam Andri Cahya Nugraha
Semoga Diterima si Sisi-Nya

Uang pasti habis.
Tua itu pasti.
Mati juga pasti.
Lalu kenapa harus mengkhawatirkannya?
Jalani saja!
-ME-

Rabu, 27 Mei 2015

13 Oktober 2013 : "Motoran" ke Kawah Putih

13 Oktober 2013

Pagi buta ketika dingin masih menyelimuti kota, kami terbangun melawan rasa kantuk, mendahului kumandang adzan subuh juga mendahului Sang Surya yang belum beranjak dari pembaringannya. Kami sudah berencana untuk mengunjungi seorang teman di Leuwi Gajah, Cimahi. Dia menyarankan untuk mengunjungi Kawah Putih dan katanya kalau memungkinkan dia akan mengantar kami ke lokasi. Berbekal janji itulah kami akhirnya memberanikan diri mengendarai Si Ganteng menuju Cimahi dari Jakarta. Karena libur panjang dan takut terhadang oleh kemacetan jalur Puncak, maka kami berangkat pagi buta setelah menunaikan Shalat Subuh.

Jakarta - Puncak

Dingin masih menusuk pori - pori kulit kami meski kami mengenakan jaket yang cukup tebal, bahkan meski matahari sudah mulai terbit, untung saja sejauh mata memandang kami tak melihat kemacetan sedikitpun, mungkin belum lebih tepatnya. Setelah menanjaki tanjakan menuju Puncak yang berkelak - kelok cukup lama, kami akhirnya berhenti sejenak untuk beristirahat dan sarapan di seberang Masjid Attauwun. Menikmati segelas kopi panas dan jagung bakar, sambil menikmati pagi yang cerah.

Trip to Kawah Putih 1
View dari depan Attauwun

Trip to Kawah Putih 2
Dari Warung Depan Attauwun

Trip to Kawah Putih 3
Sarapan Hangat

Trip to Kawah Putih 4
Mangga mampir heula sakedap

 Puncak - Leuwigajah, Cimahi

Sekitar hampir empat jam dari perjalanan di mulai, kami akhirnya tiba di rumah teman saya di kawasan Leuwigajah, Cimahi. Lebih tepatnya di pemukiman depan SMK N 1 Cimahi atau lebih terkenal dengan sebutan STM Pembangunan Bandung. Ternyata ketika kami sampai, teman saya sudah mempunyai janji dengan sahabat - sahabatnya untuk pergi entah ke Lembang. Awalnya kami diberikan opsi untuk melanjutkan dengan rute yang baru saja dia jelaskan atau ikut bersama mereka menuju pemandian air panas di daerah Lembang. Sebenarnya cukup tergiur juga untuk mencicipi pemandian air panas, tapi karena saya bukan tipe orang yang mudah bersosialisasi dengan orang - orang baru, begitu juga partner saya, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kawah Putih dengan hanya bermodal GPS dan petunjuk yang sudah di terangkan dari teman saya itu.


Trip to Kawah Putih 5
Kawah Putih

Trip to Kawah Putih 6
Keheningan di sela hiruk pikuk pengunjung
Trip to Kawah Putih 7
Pre-Wedding

Trip to Kawah Putih 8
Saya kala itu

Trip to Kawah Putih 9
Angkutan

Leuwigajah, Cimahi - Kawah Putih

Rute yang sudah di terangkan oleh teman saya ternyata cukup detail dari mulai kondisi jalanan yang kasar dan berbatu, berkelak - kelok, menanjak, banyak sawah, perkampungan dan sebagainya memang kami jumpai. Awalnya kami berniat mencari penginapan untuk bermalam di sana di sekitar Kawah Putih, namun kami lebih memilih untuk mengunjungi kawasan Kawah Putih terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah kami jadi menginap atau tidak.

Kawah Putih

Sampai di area wisata Kawah Putih ternyata kami harus menaiki sejenis angkutan umum terbuka yang akan mengantar kami ke puncak tempat Kawah Putih berada. Dan ternyata trek yang dilalui angkutan yang kami tumpangi cukup menegangkan, di salah satu sisinya terdapat tebing jurang, sedangkan jalanan yang digunakan sebagai trek medannya naik turun, berlkelok - kelok dan sempit, bahkan ketika ada mobil atau angkutan yang turun, kendaraan dari kedua arah harus menurunkan kecepatan dan saat berpapasan jarak antara kendaraan cukup sempit. Benar - benar menantang.

Hingga di atas, kami baru sadar kalau kami tidak membawa masker untuk menghindari bau belerang yang menyengat dan bisa mengganggu pernapasan. Saat itu situasinya sudah bisa ditebak, ramai dan ada beberapa kali saya melihat calon pengantin melakukan foto pre-wedding.

Kembali Pulang

Cukup lama kami berada di sana menikmati keindahan alam dan membiarkan tubuh terkontaminasi Belerang, kami akhirnya memutuskan untuk kembali turun. Tepat saat kami naik ke atas, keluar dari area Kawah Putih hujanmulai turun, deras. Kamipun harus menunggu untuk kembali turun karena banyak wisatawan yang saat itu juga bermaksud untuk turun menghindari terkena hujan. Tentu saja angkutan yang  tersedia tidak bisa mengangkut seluruh pengunjung dengan hanya sekali angkut, jadi kami harus menunggu beberapa angkutan yang kembali. Dan menurut penuturan, jam lima merupakan dari akhir oprasional angkutan. Saya sempat melirik jam. masih jam 3.30 pm.

Cimahi - Jakarta

Memasuki Cimahi, saat itu sudah cukup larut, kami memutuskan untuk tidak mampir dulu di rumah teman saya, kami langsung melaju menuju Jakarta, karena satu dan lain hal kami mengurungkan niat untuk bermalam di area Kawah Putih. Di jalan kami menemui hambatan karena rasa kantuk yang merasuk dan kondisi jalan yang licin, motor yang kai tumpangi tergelincir di daerah dekat cipularang. Saat itu juga kami seolah terbangun oleh rasa kaget dan sakit dari luka yang diakibatkan oleh hantaman dengan jalan aspal, Luka tak kami hiraukan yang penting kami selamat, itu saja kami sudah bersyukur, Dengan sedikit menurunkan kecepatan, kamipun melaju pulang menuju Jakarta.

Trip to Kawah Putih 10
Beristirahat Sejenak Sebelum Sampai Kembali ke Jakarta

Perjalanan yang dijalanai adalah guru terbesar dalam kehidupan, dia tidak mengajarkan bagaimana menghitung, bagaimana membaca. Tapi perjalanan mengajarkan kita tentang kehidupan dan memperkenalkan kita kepada kematian. Karena sejauh apaun kita berlali, bila waktunya telah tiba, Mati adalah Mati.

Selasa, 26 Mei 2015

Munara : Jejak Kaki Seorang Amatir

Saya adalah seorang amatir yang ingin menjelajahi keindahan alam. Mimpi saya satu - satunya sejak lama adalah menjadi seorang Manusia yang benar - benar Hidup.

Sejak lama saya ingin sekali mendapatkan pelajaran dari alam. Mungkin sebenarnya alam sudah memberi saya banyak pelajaran dalam kehidupan sehari - hari, namun coba katakan pada saya ketika anda tinggal di Jakarta atau mungkin mendengar dan membaca kata Jakarta, apa yang terlintas? Jujur kalau saya banyak yang terlintas kecuali satu, ALAM. Alam yang saya maksud benar - benar alam yang masih alami.

Gunung, Laut, Pantai, Air Terjun, Sungai yang bersih. Itulah yang saya dambakan. Untuk laut mungkin saya sudah banyak mencicipi asinnya air laut di beberapa tempat. Ada satu keinginan terdalam saya yang sejak lama belum mampu saya wujudkan. Mendaki Gunung. Bukan tidak mau memulai, namun saya terlalu takut memulai dan tahu diri. Saya dulu seorang pemalas yang jauh dari kata olah raga, seorang yang cepat menyerah dan seorang yang penakut. Namun, akhirnya keinginan tidak boleh hanya menjadi keinginan, itu harus diwujudkan. Saya tidak mengijinkan diri saya untuk berkutat saja dengan obsesi, tapi saya harus menjalani dan mewujudkan obsesi itu.

Suatu Pagi.

Ketika akhirnya saya dan prtner memutuskan untuk mencicipi Gunung atau mungkin lebih tepat disebut sebagai Bukit Bongkok di Purwakarta, Saya yang kebetulan dalam program salah satu diet yang cukup terkenal mulai mengukuhkan jadwal untuk rutin berolah raga. Tepatnya sudah berjalan 2 Minggu hingga akhirnya rencana itu gagal karena berbagai hal, namun kami tidak lantas berhenti begitu saja, kami berdua memutuskan untuk melakukan pendakian pertama kami di Bukit Munara.

Perjalanan pagi itu kami melewati Akses Parung – Ciseeng – Rumpin – Situs Gunung Munara. Cukup mudah dan juga cukup memakan waktu. Namun karena ini adalah salah satu cara untuk mulai mewujudkan impian kami berdua, kami tetap menikmatinya.

Minggu Pagi di Munara

Bagi pemula seperti saya, sudah jelas perjalanan yang kami lalui ini tidaklah mudah meski saya sudah menjalani rutinitas untuk memperbaiki fisik saya. Namun jika terlalu dini saya harus menyerah, maka bagaimana nasib impian dan obsesi saya?

Munara 1
Mulai Melangkah

Munara 2
Track

Munara 3
Matahari Mulai Terbit

Munara 4
Menanjak

Munara 5
Mentari beranjak ke singgasana

Munara 6
Masih Menikmati Sang Surya

Munara 7
Berhenti Sejenak
Acrophobia : Melawan Rasa Tkut di Puncak Situs Batu Belah

Bila rasa lelah bukan hambatan bagi saya, maka ada satu hambatan besar yang benar - benar memukul saya dan mengkerdilkan saya saat itu. Rasa takut saya akan ketinggian seolah - olah mempecundangi saya dengan telak. Ketika sampai di situs Batu Belah, saya tidak bisa menolak kedatangan rasa takut yang sejak lama saya miliki. Terlebih saat saya harus memaksa diri untuk memanjat tebing situs Batu Belah. Namun, siapa lagi yang bisa mengalahkan rasa takut saya kalau bukan saya sendiri?

Munara 8
Tebing Batu Landai

Muanara 9
Di situs Batu Belah

Munara 10
Rock Climbing

Munara 11
Dipuncak Batu Belah

Munara 12
Terbayar

Munara 13
Melawan Rasa Takut

Munara 14
Di seberang Curamnya Belahan Situs

Munara 15
Mengabadikan
Menyerah?

Setelah turun, badan saya masih gemetar. Saya memang puas atas apa yang sudah saya dapatkan, bahkan mungkin terlalu cepat untuk merasa puas, hingga membuat kami memutuskan terlalu cepat untuk menghentikan perjalanan. Kami hanya sempat mampir ke Situs Goa Soekarno. Memang selain karena saya yang mengalai guncangan hebat, juga karena faktor pengunjung yang begitu ramai  dan waktu yang sudah sepertinya tidak memungkinkan jika kami perhitungkan membuat kami berpikir ulang untuk melanjutkan perjalanan atau tidak.

Munara 16
Di dekat Situs Goa Soekarno

Munara 17
Partner in Crime
Setelah akhirnya berpikir cukup lama dan menghasilkan keputusan untuk tidak melanjutkan perjalanan sampai puncak yang entah sampai sekarang kami masih belum tahu di mana posisi puncak Munara. Kami hanya perlu memaknai perjalanan ini dan meyakinkan bahwa titik awal yang kami jalani ini, tidak akan menjadi akhir dari perjalanan yang sudah kami targetkan hingga kami bisa mencapai impian untuk mencicipi puncak - puncak tanah yang ada.

Mungkin di sini kami menyerah, tapi inilah pelajaran. Mungkin kami hanya mencapai titik terendah dari sebuah pendakian namun bagi kami ini adalah landasan yang cukup berharga. Jika nanti kami berhasil mencapai puncak tanah yang lebih tinggi di bumi ini, maka saya akan teringat puncak terendah yang belum saya cicipi. Bukankah ketika kita berada di puncak kehidupan, kita tak boleh melupakan saat kita berada di bawah dalam rantai kehidupan, tidak boleh juga menjadi angkuh dan memandang rendah orang yang berada di bawah kita. Inilah pelajaran, bahwa setinggi apapun kita nantinya, kita akan tetap menapakan kaki di tanah yang tak akan pernah bisa lebih tinggi bahkan menyentuh langit.