Jumat, 19 Juni 2015

Late Post : Hutan Pinus Gunung Pancar

Gunung Pancar 1
Gunung Pancar
Sebelum Puasa

Sebelum Puasa, di Hari Minggu, 13 Juni 2015. Saya dan partner berangkat dari Cijantung, Pasar Rebo di pagi buta. Seperti biasa usai Shalat Subuh. Karena sekali lagi ini adalah perjalanan menuju tempat yang belum kami tahu sama sekali di mana lokasinya.

Sebenarnya dulu saya pernah mengunjungi tempat ini dengan beberapa teman, namun saat itu kami berangkat malam hari dan memang sulit mengingat saya tidak bisa mengingat rute menuju lokasi itu. Yang saya ingat adalah Sirkuit Sentul, Hotel Harris dan Pintu Gerbang area Gunung Pancar.

Ternyata...

Rute yang kami lalui hampir sama dengan rute saat kami menuju Leuwi Hejo. Namun di pertigaan setelah melewati Sirkuit Sentul menuju Perumahan Sentul, tepat di pertigaan Hotel Harris kami mengambil ke arah kanan menuju Jalan Raya Babakan Madang karena itu sesuai petunjuk yang kami baca dari beberapa blog.

Cukup lama saat akhirnya kami terkejut ternyata jalan itu menembus tepat di sebelah pintu masuk Jungle Land dan bila kita belok ke arah kanan adalah menuju arah sentu.

"Ohhh... Tembusnya ke sini?" Itu kalimat yang keluar dari mulut kami saat tiba di depan Pintu Gerbang Jungle Land.

Ternyata rute yang harus kami tempuh memang sama dengan rute sebelumnya saat kami menuju Leuwi Hejo, namun tepat di pertigaan setelah pertigaan Indomaret kami mengambil jalur kiri, bukan lurus seperti saat menuju Leuwi Hejo.

Perjalanan tidak begitu jauh dari saat kami mengambil jalur kiri. Setelah sekitar satu kilo meter lebih menempuh perjalanan menanjak, akhirnya kami tiba di pintu / gerbang masuk.

Gunung Pancar 2

Gunung Pancar 3

Gunung Pancar 4

Gunung Pancar 5


Gunung Pancar 7


Gunung Pancar 10

Gunung Pancar 11

Gunung Pancar 12

Gunung Pancar 13

Gunung Pancar 14

Pemandangan lokasi yang dipenuhi hutan pinus cukup menenangkan dan mengasyikan. Untuk sekedar foto - foto dan refreshing gunung pancar cukup rekomended.

Gunung Pancar 15

Gunung Pancar 16

Gunung Pancar 17

Gunung Pancar 18

Gunung Pancar 19


Budget & Fasilitas

Tiket Masuk Area Gunung Pancar Rp. 20.000,- untuk 2 orang & 1 motor. (exclude Parkir)
Lokasi cukup aman dan nyaman. Area parkir luas
Ada Area untuk anda yang mau nge-Camp.
Banyak Penjual dengan harga yang sedikit bisa di bilang cukup mahl namun tetap masuk akal.
Hutan Pinus yang terawat dan asri.
Ada track untuk yang doyan Downhill.
Toilet yang bersih.

Gunung Pancar 20
Pergi dari area Pemandian

Tiket masuk area pemandian Rp 20.000,- untuk 2 orang & 1 motor. (exclude Parkir)
Lokasi dan fasilitas tidak begitu menarik bagi saya, hingga akhirnya setelah masuk, kami langsung memutuskan untuk keluar dari area pemandian.

Katanya ada area pedesaan dengan nama Kawah Putih & Kawah Merah namun harus masuk dulu ke area pemandian air panas. Namun karena kami merasa sedikit "tertipu" maka kami urung untuk mengunjungi area pedesaan tersebut yang katanya bagus untuk hunting foto.

Gunung Pancar 21


Gunung Pancar 23


Bukan masalah anda mengatakan "Indonesia Itu Indah" tapi ini adalah tentang bagiamana kita memaknai dan mensyukuri keindahan itu sendiri. Syukuri & Nikmati.

Gunung Pancar 24


Minggu, 07 Juni 2015

Senja di Pelabuhan Sunda Kelapa


Sunda Kelapa 1
Menghabiskan Senja di Pelabuhan Sejarah

Jakarta, 7 Juni 2015

Minggu kali ini saya dan partenr sama sekali tidak punya rencana untuk pergi ke manapun. Setelah seminggu terakhir kami pergi ke Curug Leuwi Hejo, Curug Barong dan Leuwi Lieur, kami ingin sekedar refreshing di dalam kota saja, terlebih saya memiliki target untuk pasca lebaran nanti yang mengharuskan saya menabung sebagian besar penghasilan.

Menghabiskan Senja.

Kali ini akhirnya setelah membiarkan partner membaca di beberapa blog akhirnya kami memutuskan pergi mengunnungi area Pelabuhan Sunda Kelapa. Ada yang membuat saya sedikit "ngeper" untuk pergi ke sana, karena partner menceritakan salah satu komentar di blog yang dia baca yang menerangkan kalau di sana sering terjadi pemalakan. Namun seingat saya yang terakhir berkunjung ke sana di sekitar tahun 2012 di sana aman - aman saja.

Pelabuhan Sunda Kelapa.

Sunda Kelapa 2
Area Pelabuhan Sunda Kelapa
Sekitar pukul 5.00 am kami baru sampai di lokasi Pelabuhan di dekat kawasan Kota Tua, tepatnya di Jl. Maritim Raya No.8 Kelurahan Ancol, Pademangan Jakarta Utara. Akses menuju ke pelabuhan yang terletak di Muara Sungai Ciliwung ini cukup mudah, bila dari kawasan Kota Tua silahkan menuju arah Terminal Angkot dekat jembatan Kota Intan lalu belok kanan di dekat jembatan tersebut lalu sampai ke pertigaan belok kiri, lurus terus hingga sampai ke pertigaan jalan yang membentuk huruf "Y" lalu pilih ke arah kanan tidak jauh dari situ, belok kanan lalu belok kiri masuk menuju pintu masuk area Pelabuhan yang di sebelahnya terdapat toko swalayan Indomaret.

Sunda Kelapa 3
Kapal - Kapal Gagah

Sunda Kelapa 4
Walk the Walk

Sunda Kelapa 5
Berjalan

Sunda Kelapa 6
Saya
Hanya dengan membayar Rp 3.000,- kita sudah bisa menikmati area Pelabuhan. Beberapa kali saya melihat keadaan dari area parkir motor di dekat pelabuhan. Banyak jajaran kapal - kapal Phinisi dan beberapa pengunjung yg sedang lalu lalang. Ada juga beberapa penghuni kapal yang sedang duduk di pinggir pelabuhan. Sepertinya kekhawatiran kami tentang pemalak hanya sekedar kekhawatiran saja.

Sunda Kelapa 7
Kapal Lainnya

Sunda Kelapa 8
Duduk di Samping Kapal

Sunda Kelapa 9
Serasa Saudagar

Areanya memang tidak begitu luas, namun cukup bersih bila saya bandingkan dengan kondisi sebelumnya. Namun sayang, kegiatan para tukang angkut sudah tidak terlihat karena kami datang menjelang senja.
Sunda Kelapa 10
Drum
 Satu yang menjadi tips bagi pengunjung, jangan terlalu berharap anda bisa menikmati detik - detik terbenamnya mata hari di sini, kecuali bila anda menyewa sampan dan mengelilingi area pelabuhan, mungkin anda dapat menyaksikan keindahan sunset. Namun saat itu kami memutuskan untuk tidak menyewa perahu sampan karena sepertinya tetap tidak akan mendapat gambaran sunset yang bagus, namun menukmati jajaran Kapal yang bertengger di sisi pelabuhan cukup memuaskan kami.
Sunda Kelapa 11
Pose Saja

Sunda Kelapa 12
Pose Lagi

Sunda Kelapa 13
Pose Sekali Lagi

Sunda Kelapa 14
Pose Terakhir

Beberapa kali saya sempat menawarkan kepada partner, apakah dia mau naik perahu untuk mengelilingi area muara? Jujur saja, kalau saya sendiri karena melihat kotornya air, saya tidak begitu tertarik.

Sunda Kelapa 15
Siluet
Beruntung partner saya menggelengkan kepala. Jadwal saya kali ini hanya menemaninya mengabadikan jajaran Phinisi sambil sesekali memotret saya karena cukup bosan juga hanya memotret kapal - kapal yang terparkir di dermag. Sayapun hanya mengekor saja sambil sesekali jepret dengan bantuan kamera ponsel Lumia 730 milik saya.

Sunda Kelapa 16
Salam Senja

Sunda Kelapa 17
Selamat Petang Sampai Jumpa

Ketika ingin menikmati keindahan dan ketenangan, jangan terlalu banyak berpikir. Lakukan! Nikmatilah, karena kematian datang tanpa sempat kita pikirkan.

Sabtu, 06 Juni 2015

Putih Abu (Kisah 3) : Hit Me Baby One More Time

Saat masih berperan sebagai anak ingusan, melihat siswa - siswi yang lalu lalang di depan rumah mengenakan seragam putih abu - abu membuat saya takjud dan membayangkan betapa dewasanya mereka, betapa mereka dipenuhi pemikiran dan perilaku tenang dan mampu berbicara dengan tertata serta penuh pemikiran matang juga berperilaku dewasa. -Mungkin saya terlalu termakan oleh sinetron pada jaman itu-. But the fact? A a! Totally wrong! Sangat bertentangan, khususnya saat saya yang sudah mulai mengenakan seragam sejenis.

Kids on Play...


Hit Me 1
Menginjak kelas XII masa itu ternyata tidak lantas mengubah beberapa murid di kelas saya menjadi semakin dewasa secara tingkah laku. Sebenarnya saya tidak paham seperti apa standar "kedewasaan" seseorang, yang jelas saat itu kami masih bisa dibilang sebagai kekanak - kanakan mungkin. Sering kami bermain dan bercanda berlebihan tentang satu hal. Mencela, tidur di lantai sepanjang istirahat, mengobrol dan bermain perang - perangan dengan menggunakan penggaris kayu atau apapun yang ada. Everyday was always be "Kids On Play" time.

Playground...

Suatu hari dan kalau tidak salah itu adalah hari Kamis, bertepatan dengan pelajaran Gambar Teknik. Kami semua berada di dalam ruang kelas yang dipenuhi dengan jajaran meja gambar besar dan tinggi didampingi kursi kayu bundar tanpa sandaran di setiap mejanya yang hanya menyisakan celah kecil di setiap jarak antara barisan meja sebagai jalur untuk berjalan kaki.


Hit Me 2
Saat itu setelah Pak Guru yang saya ingat Bapak Darsono memberikan tugas menggantikan Bapak Supono yang saat itu sedang ada tugas di luar sekolah, beliau keluar dan meninggalkan kelas yang dalam keadaan tenag -hanya untuk sementara-.

Seperti biasanya semua kembali dalam keadaan "normal" the Genius were gonna work and the kids were gonna play. And yes I was just a little brat. Tidak perlu menunggu lama sampai saya berjalan menghamipri dua manusia yang selalu terlihat seperti Tom & Jerry di dalam kelas. Bintang dan Ade. Saya menghampiri mereka dan seperti biasa memperbincangkan segala hal dan saling mencela hingga mampu memancing satu personil lagi, Agung. Kami berempat memang seperti team srimulat. Hanya penggembira saja khususnya saya mungkin yang mendapat gelar sebagai penggembira dari salah satu guru pembimbing. Duh!

Lama berbincang kami melihat satu benda yang menarik perhatian kami. Manual Forklift yang tersimpan di belakang ruanga kelas karena memang sedang ada renovasi di ruangan tersebut seolah - olah melambai ke arah kami menggoda kami menggelitik kami dengan segala imajinasi dan keceriaannya.

Hit Me Baby One More Time...


Hit Me 3
Tanpa ba bi bu kami berempat menuju "arena permainan" itu ditemani imajinasi kami yang tinggi.

"Aku ikut" Tampaknya Merry yang merupakan salah satu jenius dalam ekosistem kini ingin bereksperimen dengan imajinasinya bersama kami. Secara bergantian salah satu dari kami memegang tuas dan memompanya untuk mengangkat empat orang lainnya yang ada sedang beriada di bagian alas triplek tebal yang diletakan sebagai alas di atas garpu pengangkut. Hingga terakhir tiba giliran saya untuk memegang tuas pengungkit dan membiarkan empat orang sahabat saya bermain seolah - olah mereka berada di atas kapal.

Beberapa kali saya memompa tuas pengungkit dan alas triplek terangkat. Di gadapan saya di depan tuas pengungkit berdiri Ade yang ikut membantu memompa tuas, di belakang Ade ada Bintang yang berdiri sambil melambaikan tangan seolah sedang mengikuti parade putri kecantikan laku Merry duduk di bawah sambil bersila entah apa yanh di lakukan karena dia hanya tertawa serta Agung yang berdiri di ujung sambil melakukan hal aneh seperti biasanya. Beberapa kali forklaift naik dan beberapa kaki juga forklift turun, hingga suatu saat tiba - tiba pibtu terbuka dan tak ada peringatan bagi kami berlima yang berhasil membuat kami terpaku. Sosok Pak Darsono berdii di depan pintu memandang kami sambil menghela nafas panjang. Pandangan mata kami nanar hingga beberapa saat hingga akhirnya kami tersadar. Dengan spontan saya melepaskan pegangan tangan pada tuas, namun naas bagi ade dia yang masih mencondongkan tubuhnya ke arah tuas menolehkan wajahnya ke arah saya bertepatan dengan lepasnya tuas yang baru saja saya lepas.

Hit Me 4
SUSPECT
"BUGGGG!" Efek pegas dari tuas yang tadi dalam kondisi terpompa penuh melenting kembali pada posisi normal denga terlebih dahulu menghantam wajah Ade. Saya tidak sempat tertawa tidak juga yang lainya. Bahkan Ade hanya bisa menaduh sambil ikut berlari.

Saya, Bintang, Merry dan Agung bisa dengan lancar meluncur sambil menunduk diantara cela meja hingga tiba di kursi masing - masing. Namun sekali lagi naas bagi sahabat kami Ade yang memang bertubuh sedikit besar.

"Buuggg! Adduuh!"
"Buggg!!! Buggg!"

setelah berkali kali mengantam kaki kayu meja gambar yang keras kali ini Ade hanya bisa menganga tanpa suara menggambarkan rasa sakit sambil mengusap - usap keras bagian tubuhnya yang terasa sakit. Saat itulah kami tertawa terbahak - bahak, tak terkecuali Ade.

Ade, maafkan kami. Maafkan saya sobat.
Honor and Pride
Friends

Jumat, 05 Juni 2015

Putih Abu (Kisah 2) : We didn't Locked You In

Locked In 1

"Hey Wassup Broo!" Seru gadis bertubuh kecil dengan rambut rebonding bernama Merry. Satu hal yang harus anda tahu tentang Merry, anda tidak perlu mengerjai Merry untuk melihatnya tersiksa atau supaya anda bisa tertawa, cukup tunggu sampai Merry melakukan hal yang membuat dirinya tersiksa dan mempermalukan dirinya sendiri.

"Wassap wassup! Ngomong Atmosfer aja belum bener, sok Wassap Wassup!" Komentar Ade.
"Heh! Bisa Ya!" Merry nyolot.
"Coba bilang! ATMOSFER!" tantang Bintang.
"ASMOSFER" dengan penuh percaya diri Merry menyebutkannya.
"Hahahha apaan it asmosfer." Cela Winda dengan suara kecil nyaris tidak terdengar.
"AT" Aji membimbing meri
"AT" meri mengikuti
"MOS" lanjut Aji
"MOS" Merry masih dengan yakin mengikuti ejaan.
"FIR" masih dengan sabar.
"FIR" Merry masih mengikuti.
"ATMOSFER" pungkas aji.
"Asssstssssmosssfer" Susah payah namun tetap gagal. Tawa kami meledak menghakimi.

We didn't locked you in!

Locked In 3
Tokoh Utama dalam cerita ini

Tanpa menghiraukan tawa kami yang terdengar menghina Merry berlalu masuk ke kamar mandi yang terletak di hadapan kami yang sedang bersandar di railing kayu lantai dua ruang teori.

Tak lama tiba - tiba terdengar suara gaduh dari kusen pintu yang dihantam berkali - kali oleh guncangan daun pintu. Kami berempat hanya diam sambil memandandang sinis ke arah pintu.

"Bin bin!!! Jangan iseng doooong!" Suara Merry terdengar begitu miris dari dalam toilet. Kami diam dan saling bertukar pandang.

"Bin Biiiiin!" Terdengar semakin getir.

"Apaan sih Mer orang gak ada yang ngunciin!" Bintang yang merasa difitnah berteriak tak terima. Kali ini masih terdengar suara isakan dari balik pintu toilet yang masih diiringi gaduh benturan daun pintu dan kusen. Kami mulai bingung, namun tidak satupun dari kami yang membantu, karena kami pikir dia hanya lupa tidak membuka engsel pintu saja.

"Ada apa dek?" Tiba - tiba seoarang senior perempuan yang sepertinya bermaksud untuk ke toilet. Kami hanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaannya.

Dengan heroik kakak kelas bernama Ika itu mendekati pintu kamar mandi dan mendorongnya dengan sedikit tambahan tenaga. Akhirnya pintupun terbuka, tampak wajah meri yang memelas penuh air mata merambati pipinya. Dia mengusap - usap matanya sambil berlalu ke dalam kelas mengabaikan kami.

Oh ternyata...
Locked In 2
The Duo

Tak lama setelah Kak Ika masuk toilet, suara gaduh itu sekaki lagi terdengar.

"Krek Brak!" Akhirnya pintu terbuka dan terlihat sosok Kak Ika sambil nyengir kuda kekuar dari toilet.

"Oh ternyata macet pintunya." Terangnya tanpa kami minta.

"Oooh..." Hanya itu tanggapan kami.

Setelah senior kami berlaku kami tertawa terbahak - bahak mengingat kejadian Merry tadi yang ternyata memang itu diakibatkan oleh pintu toilet yang macet.

Merry, Merry.

Terima kasih untuk kekonyolanmu Mer.

Honor and Pride
Friends

Putih Abu (Kisah 1) : Sang Balerina

Balerina 1
Setiap manusia pasti pernah mengalami hal yang memalukan namun bagi orang yang menjadi saksi atas kejadian memalukan itu, hal yang kita anggap memalukan akan tampak menggelikan dan menyenangkan bagi orang lain.

Punya sahabat dekat? Pernah saat anda jatuh dia tidak tertawa terbahak - bahak sebelum menolong anda? Tapi apakah anda marah bila dia bersikap seperti itu pada anda? Bila anda punya sahabat dan dia melakukan itu namnun anda tidak marah. Selamat, dia adalah benar - benar sahabat anda yang akan menemani anda dan anda adalah sosok sahabat yang tak akan pernah bisa tergantikan.

Namanya Bintang.
Balerina 2
Tokoh Utama dalam Cerita Ini

Gadis berkerudung yang baru menginjak masa remaja itu bernama Bintang. Seperti wanita STM yang mungkin ada dalam bayangan anda -Dulu, karena sepertinya gadis - gadis STM jaman sekarang sudah sangat berbeda-. Satu yang akan anda ucapkan saat bertemu Bintang saat itu. "Serem!" Berkerudung bukan jaminan kalau seseorang itu lembut ternyata, kalau untuk urusan agama tidak perlu ditanya dia jagonya, tapi kalau untuk urusan preman, dia juga Ratunya.

Pada suatu hari di jam istirahat...

Ini pertama kalinya saya dan Bintang akur, karena di pertemuan pertama kami seperti Tom and Jerry. Saat itu jam istirahat, sekitar pukul 9.15 am. Saya, Bintang dan Merry kala itu menuju salah satu kantin di dekat workshop CAD. Keadaan kantin memang sudah biasa sangat ramai saat jam istirahat, saya saat itu enggan untuk ikut berdesakan di antrian pembeli yang nampak buas dengan suara geraman diiringi gerakan tangan yang seolah ingin mencakar tiga ibu penjaja kantin itu.

Berbeda dengan saya, kedua gadis bertubuh kecil itu dengan berani masuk ke dalam kerumunan orang, bahkan berhasil masuk ke dapur yang juga sudah ada beberapa anak yang berdiri di sana. Akhirnya sayapun mengikuti jejak mereka, tak mau kalah dan tak mau kehabisan makanan.

Pertunjukan Ballet Terindah

Balerina 3
Duo
Setelah ikut menggeram - geram menyebutkan pesanan saya berniat untuk keluar, namun entah apa yang ingin Bintang ambil saat itu, dia malah melesak berusaha menampar - nampar pantat beberapa gadis di sebelah kiri - kanannya dengan tubuh ala model -baca kurus- yang saya bilang tidak bisa menandingi kokohnya tubuh - tubuh dengan bodi aduhai menuju bohai beberapa murid di sana.

Saya sempat memalingkan pandangan, begitu juga Merry. Seingat saya kami berdua berniat keluar area dapur meninggalkan Bintang yang sibuk dengan urusannya sendiri. Belum sempat kami menggerakan kaki, saya mendnegar sebuah ringkihan garang.

"Adduh!" Secara bersamaan bintang tampak terhempas keluar dari kerumunan. Tubuhnya limbung, salah satu kakinya menjadi tumpuan dengan kaki lainnya yang sedikit menggantung, tangannya melambai - lambai ke sana - ke mari seperti tentacle, Tubuhnya berputar, di dalam kepala saya seolah terdengar musik sayu mendayu, ya seperti alunan musik untuk mengiringi pertunjukan balet-. Rotasi tubuhnya sekitar dua kali berturut - turut, hingga akhirnya dia tidak bisa menahan oleng tubuhnya dan mulai terjatuh. Bersamaan dengan gerakan gugur tubuhnya, salah satu tangannya tanpa sengaja menyenggol sebuah baskom berukuran sedang yang dipenuhi dengan adonan gorengan.

"Bug! Pyok!" Begitulah kiranya efek suara dari jatuhnya tubuh Bintang diiringi siraman adonan basah yang melumuri seragamnya.

Tidak perlu ditebak apa yang saya lakukan. Saya hanya bisa menggigt bibir supaya tidak tertawa terbahak - bahak sedangkan Merry hanya tertegun heran menyaksikan sahabatnya itu.

"Ya ampun Mbak!" Seru salah satu ibu penjaga kantin.
"Adonankuuuu!" Ibu yang lainnya berteriak miris.

Tanpa ada yang membantu, karena kami yang berada di sana kaget, sedangkan ibu - ibu pedagang kantin kembali sibuk dengan dagangannya dan juga sibuk menyelamatkan adonan, membiarkan Bintang berdiri dengan sendirinya.

"Heh! Koe njorogke aku to!" (Heh! Lo ngedorong gue kan!) Tanpa kami duga ternyata Bintang langsung membentak salah satu murid dari jurusan lain, saya ingat gadis malang itu adalah Chika, dari jurusan Kimia Analis. Saya dan Merry kali ini dibuat menganga.

"Apa sih?" Chika tampak bingung.

"Alah!" Saya tahu saat itu mungkin Bintang perlu kambing hitam untuk urusan yang mepermalukan dirinya sendiri itu.

Bintang melaju dengan langkah kakinya yang cepat meninggalkan kami yang setengah berlari mengejarnya sambil terbahak - bahak. Meninggalkan tawa tanpa mengetahui apakah benar atau tidak bahwa Chika-lah yang menyebabkan pertunjukan Ballet paling indah tadi.

Tidak satupun dari kami menghiraukan Chika, kami hanya menghiraukan bayangan indahnya drama pertunjukan Ballet yang tadi sudah ditampulkan di depan mata kami.

Terima kasih Bintang untuk Hiburannya, You are The Best.

Honor and Pride
Friends.