Rabu, 13 Mei 2015

It's Okay to Be Short

SHORT!

Well being a short guy, is something that could eat you from the inside by the insecurities. But somehow A SHORT person also have some advantage. Like you don't need to lay back down on Limbo. See! We know how to win, right?

And by the way, Yes, one time you need to and it's okay you're asking whoever "Why do I short? Why did I born this way?" Whatevs. But that's never gonna help you, Trust me. I've been trying and I'm still stick on my 5'4" body.

Tell me everything that Short Person's Impossible to do. Yeah, I knew it. Most of the time I'm living in a "Nothing can be done by a short person." Yeah, it's okay. I used to think a lot more about The Impossible thing to do for a Shorties. Yes! Everything seems like didn't made for shorties. DANG!

Short guy Model? Haven't seen one. at least they have 5'7" or 5'8". 5'4" come on! you must be a dwarf.

Okay let's give some excuse. You don't need to be a super model to doing a pose in front of the camera. Just put some confident on and add some unusual pose to catch the attention and make people keep off their focus from your short body. Hahahah. It's sound silly, but yeah! Just do it.

1
Try This

2
Imitate absurd/artistic pose
as much and as good as you can

3
Show some strength

4
Made some unique campaign
I remember Joey Mead King was saying "Your Flaw make you Flawless." Anyway, nobody's perfect right? We (shorties) may see a person with an ideal body as a perfect one, but you know what makes us perfect (as a human)? it's our imperfections.

Ther's nobody can judge us better than what God's do!

Hobbits Hug. #ItsOkayToBeShort #JustTalk

Curug Cilember

Minggu, satu - satunya hari libur yang saya miliki. Karena itu sebisa mungkin saya memanfaatkannya dengan baik. Berbeda dengan partner saya yang memang kantornya libur di hari Sabtu dan Minggu. Ya, meski Sabtu hanya bekerja setengah hari tetap saja saya tidak bisa bebas berlibur. Ngapain juga berangkat liburan di Sabtu Sore? MACET!!!

Minggu, 10 Mei 2015 Pukul 05.30 am

Kami berdua berangkat menyusuri Jalan Raya Bogor, sebelumnya kami menuju Rumah Pak Andre teman kerja partner saya untuk mengantarkan PS 2 miliknya yang dibeli oleh Pak Andre. Sekitar jam enam kami sudah sampai dan mengobrol hingga sekitar dua setengah jam.

Sekitar jam setengah sembilan, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata kemacetan sudah memenuhi jalanan Ciawi menuju Puncak. Beruntung karena kami mengendarai motor, jadi kemacetan tidak begitu mempengaruhi perjalanan kami hingga akhirnya kami sampai di pintu depan Curug Cilember.

Cilember 1
Curug Cilember
Ini kali kedua kami kembali ke sini, sebelumnya kami hanya sempat dan hanya bisa mencapai Curug 5 saja, namun hari ini kami bertekad untuk bisa sampai di Curug 2. Sampai saking asyiknya dan bersemangatnya kami lupa untuk mengabadikan bagaimana rute perjalanan kami menapaki jalur diagonal yang sebagian besar merupakan tanah liat yang licin. Sebenarnya entah mungkin karena terlalu asyik atau karena kami harus berkonsentrasi supaya tidak terpeleset, ditambah saat itu saya salah mengenakan kostum. Kemeja hitam & celana bahan. Ah! benar - benar konyol.

Cilember 2
Sesekali berhenti untuk bergantian melewati jalur
Beberapa kali kami berhenti untuk sekedar bergantian melewati jalur dengan para pengunjung yang turun. Semakin ke atas ternyata semakin jarang yang naik. Mungkin jalan yang licin dan lembab serta beberapa pohon tumbang yang menjadi alasan pengunjung untuk tidak mendaki terlalu jauh.
Kami berdua sama sekali tidak tahu di mana posisi Curug 4, 3, dan 2. Bermodal nekat dan keinginan untuk bisa mencapai Curug 2 akhirnya kami terus melanjutkan perjalanan.

The Power of Mindset

Ternyata memang harus berhati - hati dalam menentukan mindset. Kami sudah mendaki jauh hingga sekitar satu jam tiga puluh menit, sampai kami tak lagi mendengar suara riak air yang akhirnya memaksa kami untuk berhenti dan berpikir. Kami berhenti cukup jauh dari tempat kami mendengar riak air yang terakhir tadi. Lama kami saling berpandangan hingga akhirnya kami memutuskan untuk menyerah dan kembali turun karena sepertinya langit mulai gelap dan medan semakin menakutkan, ditambah saat membaca salah satu blog dengan bantuan sinyal kuat dari provider yang saya gunakan, kami semakin ragu untuk melanjutkan karena diterangkan di sana bahwa ternyata jarak tempuh antara Curug 5 ke Curug 4 dan 3 yang tidak begitu jauh hanya sekitar 15 menit, dan untuk menuju Curug 2 hanya 30 menit. Terlebih adanya beberapa lintah yang muncul dan salah satu lintah kecil berhasil menempel di leher saya, akhirnya kami memutuskan untuk turun.

Curug 2

Benar saja setelah akhirnya kami kembali mendengar suara riak air, kami melihat ada beberapa orang keluar dari jalur sebelah kiri yang di pertigaan jalan setapak itu ada papan bertuliskan "EXIT" menunjuk arah turun. Iseng kami segera bertanya dan ternyata itu adalah Curug 2.

Cilember 3
Curug 2
Cilember 4
Curug 2
Cilember 5
Salah Kostum 
Cilember 6
Diatas, dibawah dan di samping

Cilember 7
Narsis

Saat kami menyadari bahwa kami ternyata sudah melewati Curug 2, kami hanya tertawa. Ternyata memang ketika Mindset kita sudah kita atur untuk sampai ke satu titik, maka ya kita akan mencapainya. The Power of Mindset.

Curug 3

Setelah puas bermain air di Curug 2, akhirnya kami memutuskan untuk kembali turun karena lagi - lagi langit berangsur gelap. Saat turun, entah bagaimana awan - awan hitam beringsut, menyingkir dari atas kami. Sambil sekali lagi meyakinkan kalau langit tidak akan menjatuhkan bulir - bulir air hujannya, kamipun memutuskan untuk mampir di Curug 3, karena kebetulan kami masih mendengar suara air yang jatuh menghantam bebatuan.


Cilember 8
Curug 3
Cilember 9
Dari Mata Ponsel Lumia 730 milik saya
For your information. Curug tiga ini areanya cukup luas, lebih luas bila dibanding Curug 2 dan Curug 4. Tidak heran kalau cukup ramai. Terlebih lagi ditambah dengan jatuhnya air cukup luas dan tinggi menghantam bebatuan hingga jatuh di kolam teratas dan akan kembali jatuh melalui sela bebatuan mengalir ke bawah.

Cilember 10
Basah

Cilember 11
Kami Saat Area Kosong

Cilember 12
Puas
Curug 4

Lagi - lagi langit sepertinya memang memberikan kami batas waktu supaya tidak terlalu lama menetap di salah satu Curug. Mendung, menyelimuti langit. Kami memutuskan turun, seingat saya dari yang telah saya baca di salah satu blog sebelumnya kalau Curug 3 dan Curug 4 tidak berjauhan, maka kami memutuskan untuk mampir sebentar ke Curug 4 sebelum akhirnya turun. Karena memang kebetulan partner saya cukup penasaran dengan Curug 4 setelah melihat papan peta di area Curug 7 yang menampilkan nyaris seluruh foto Curug, kecuali Curug 1.

Cilember 13
Curug 4
Cilember 14
Kami di Curug 4
Sepertinya untuk kali ini awan hitam enggan untuk beranjak. Jadi mau tidak mau akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Curug 5 untuk berhenti sejenak dan beristirahat.

Di area Curug 5 : Pohon Pinus dan Senandung Alam Liar

Di area curug lima, seperti saat pertama kali kami datang beberapa bulan lalu, area ini memang area yang cukup ramai selain area Curug 7. Maka dari itu,kami yang tidak begitu suka dengan keramaian dan suara bising. Kami tidak menyempatkan diri untuk mampir ke area curugnya, melainkan kami hanya duduk di bagian atas tanjakan bersama Pohon Pinus, memperhatikan semua yang ada di sana.

Cilember 15
Love The View, Love the Warmth, Love the music of the Wild.

Cilember 16
Excitemnet, Don't know how to put it on my face.

Cilember 17
One of Our Fav things to do.

Cilember 18
Take times for selfies
Akhir Perjalanan

Sekitar jam tiga akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Tanpa mampir ke Curug 5 dan Curug 7, juga tanpa tahu ke mana arah menuju Curug 6. Mungkin lain waktu kami akan kembali berkunjung, menuntaskan semuanya. Mencapai Curug 1, menyapa Curug 2, 3 & 4, mampir di Curug 5, menemukan Curug 6 serta membasuh muka di Curug 7. Menyenangkan.

Banyak hal indah yang akan selalu ditemui hanya bila kita menikmati dan bersyukur. Satu hal, "Don't give up too fast and Put a Right "Mindset" before you go."

Entah apa yang merasuki saya selama perjalanan itu, kepala saya tidak pernah berhenti mengeluarkan kata - kata dan ada satu kalimat yang saya sukai dari berbagai suara di kepala saya.

"There's noway you'll be killed by the million miles you walk, neither by the mountain you climb. Unless you're unprepared."
-ME-

Satu hal yang pasti dan selalu menjadi keinginan saya dalam hidup. Bukan menjadi dokter bukan menjadi Presiden, bukan menjadi Super Hero. Sederhana.

"Menghidupi Hidup dengan Kehidupan..."
-ME-

Jumat, 08 Mei 2015

Tahun Baru di Pulau Pari.




Melepas tahun 2014 sekitar lima bulan lalu. Sebenarnya saya dan partner bermaksud untuk ikut menyemarakkan pergantian tahun di kota saya, Yogyakarta. Sudah terbayang berbagai kegiatan yang akan kami habiskan. Mulai dari jalan - jalan ke Taman Sari, berburu Sunrise ke Candi Borobudur - Candi Prambanan, Menunggu Sunset di Pantai daerah Gunung Kidul hingga menghabiskan malam dengan berwista malam dan kuliner di seputaran kota. Namun sayang sungguh sayang, seketika rencana hancur berantakan karena kami salah perhitungan dalam mengatur waktu untuk memesan tiket kereta.

Rabu, 31 Desember 2014 04.30 AM

Akhirnya setelah hari sebelumnya kami memutuskan untuk mengubah destinasi di pergantian tahun dari rute Jakarta - Yogyakarta menjadi Jakarta (Pasar Rebo) -  Jakarta (Pulau Pari, Kepulauan Seribu). Menyesal? Sedikit, tapi tidak apa - apa, toh kami belum pernah menyambangi Pulau Pari. Satu - satunya Pulau di Kepulauan Seribu yang pernah kami kunjungi baru Pulau Tidung.

Tanpa rasa kecewa namun dipenuhi rasa was - was akan cuaca yang  tidak menentu, akhirnya kami menaiki Taksi Putra yang sudah kami pesan sejak pukul sebelas malam sebelumnya. Singkat cerita taksi yang kami tumpangi melesat menuju Pelabuhan Muara Angke. Tak ada gambaran sama sekali di mana kami akan menginap atau bagaimana situasi di tempat tujuan kami. Tak seperti yang kami bayangkan ternyata kami berangkat terlalu pagi, walau begitu beberapa calon penumpang kapal sudah menumpuk. Kami bergegas mencari kapal mana yang menjadi alat transportasi yang akan membawa kami menuju Pulau Pari. Mengejutkan, tak seperti perjalanan sebelumnya ke Pulau Tidung, ternyata kapal menuju Pulau Pari tidak begitu banyak dan sudah di sesaki dengan penumpang.

"Waduh, gue bakal dapat tempat nginap gak ini?" Saya merasa khawatir, karena kami berdua sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

Rabu, 31 Desember 2014 06.30 AM


Kapal yang kami tumpangi mulai berlayar. Makin jauh kami berlayar dari Pelabuhan, makin terlihat gurat hitam di langit membuat kami berdua menghela nafas dalam dan panjang.

Rabu, 31 Desember 2014 09.00 AM


Berlabuh
Kapal berlabuh di Pelabuhan Pulau Pari. Apa yang saya cemaskan akhirnya terjadi juga. Baru saja kaki kami menapaki tanah Pulau, butiran air berjatuhan dari langit menyambut kami berdua.

Tapi begitulah, selalu ada pengorbanan yang harus dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Lagi pula hujan ataupun tidak sepertinya tidak akan menghalangi kami untuk menikmati keindahan Pulau Pari.

Beruntung, meski belum mendapatkan tempat penginapan, akhirnya kami berhasil mendapatkannya setelah ada seorang pemilik penginapan yang menawarkan satu buah kamar kosong (karena salah satu pengunjung membatalkannya). Cukup murah dengan harga Rp. 360.000,- dengan fasilitas televisi, kamar mandi dalam, kasur yang terdapat di dalam kamar sebesar kurang lebih 5 m x 4 m serta dua buah sepeda terbilang sangat layak.


Rain will never cave me in. Kalau sudah begini, harus berdiam diri di dalam kamar akan terasa percuma, untuk apa sudah sejauh ini kalau hanya mau tidur saja? Setelah akhirnya kami sempat menunggu beberapa lama hujan mulai sedikit reda, kami memutuskan untuk jalan - jalan menelusuri Pulau.
Perahu Nelayan 
Saya yang memang selalu bingung dengan arah mata angin, saya tidak tahu di bagian manakah sekarang saya berada. Yang pertama kami kunjungi adalah daerah sekitar pelabuhan. Namun sayang di sayang, matahari tak betah bertengger lama, dia sepertinya terlalu lelah hingga lagi - lagi hujan mengguyur.

"Ya Elah!" cuma itu kalimat kekecewaan yang keluar dari mulut kami berdua.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke penginapan dan menunggu hujan kembali reda. Tak lama akhirnya hujan mulai reda, tapi kami tidak memutuskan untuk segera menulusuri pulau kembali. Kami mencoba bertanya tempat mana yang sebaiknya kami kunjungi terlebih dahulu kepada Si Pemilik penginapan. Beliau menganjurkan pada kami untuk berburu sunset di Pantai Bintang.

Sunset Fail

Sesuai instruksi, sekitar jam 3.00 sore kami berdua bergegas memacu sepeda yang sudah kami sewa untuk menuju Pantai Bintang di salah satu sisi pulau, kalau bisa melihat sunset itu berarti pantai bintang ada di sisi Barat pulau ini, itu menurut saya. Dengan bersemangat kami mengayuh sepeda, ternyata jalan menuju Pantai Bintang masih rimbun oleh jajaran pepohonan yang membentuk hutan yang cukup teduh.

Bintang Terlentang di Pantai Bintang
Well... Well... Well... Sepertinya kami akan kecewa karena awan tebal masih saja menyelimuti senja. Sebisa mungkin kami berusaha menikmati suasana pantai yang dangkal dipenuhi Bintang Laut di sana.
On their Rain Coats
Dramatic fail, yet it's fun. Kecewa? tentu. Tapi tetap saja kami bisa menikmati apa yang ada di hadapan kami saat itu.
Pleasure
Hahaha. Setidaknya saya masih bisa melakukan salah satu kegiatan yang menjadi kegemaran saya. Selfie... Ha ha ha.

Malam Pergantian Tahun

Gerimis tampaknya memang enggan untuk berhenti, namun tetap tidak ada yang bisa membuat kami mengurungkan niat untuk menikmati malam pergantian tahun.

Sengaja memang kami menyempatkan tidur terlebih dahulu, selain supaya nanti saat acara puncak pergantian tahun kami tidak mengantuk, juga karena memang hujan kala itu turun begitu deras. Namun sepertinya seperti kami, para pengunjung tak bisa terkalahkan oleh derasnya hujan. Berkali - kali kembang api menghiasi hitamnya langit Pulau Pari malam itu.

Good Bye 2014, Welcome 2015
Count down...
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
"Happy New Year!"

BOOM!!!
BOOM!!!
Semburat warna di gelapnya malam.

Fireworks.
Tak hanya pesta kembang api yang memeriahklan malam itu, tapi rupanya ada beberapa pengunjung yang sepertinya berasal dari Indonesia Timur yang merayakan pergantian tahun dengan berjoged bersama - sama. Bahkan ada beberapa pengunjung lainnya yang ikut bergabung dan membuat saya senyum - senyum sendiri. Bahkan ada beberapa bait dari lagu pengiring yang membekas di telinga saya.
"Nona Manis Putarlah ke kanan, ke kanan, ke kanan dan ke kanan....
Sekarang ke kiri, ke kiri, ke kiri dan kekiri..."
Tarian Kebahagiaan
Sunrise Fail (1 Januari 2015)

"Kalau mau berburu sunrise ke Pantai Perawan Mas." Kata Sang Pemilik Penginapan.

Kami lagi - lagi menuruti petunjuk dari Sang Pemilik Penginapan. Dengan ekspektasi cukup tinggi, kamu mengayuh pedal sepeda masing - masing menuju pantai perawan. Pantai tempat semalam kami ikut merayakan pergantian tahun. Sampai di sana ada sedikit rasa prihatin karena ternyata akibat dari perayaan tadi malam meninggalkan sampah di mana - mana. Saya dan beberapa pengunjung sesekali membungkuk untuk sekedar memungut berbagai sampah dari dalam air dan melemparkannya keluar. Sungguh disayangkan.

Beberapa kali kami melihat langit, tapi tidak ada tanda - tanda matahari terbit, yang kami lihat hanya awan tebal dan secerca sinar matahari, itupun beberapa kali tertutup awan tebal.

"Ya elah!" Gerutu partner saya yang sudah menyiapkan Nikon D3200 miliknya.

Lagi - lagi dengan rasa kecewa yang kali ini sedikit lebih terasa, kami memutuskan untuk menikmati saat - saat terakhir kami di Pulau Pari, sebelum akhirnya kami kembali ke Jakarta.

Bermain Bulu Babi
Parkir

Untuk mengobati rasa kecewa akhirnya kami memutuskan untuk merasakan sensasi menelusuri celah - celah hutan bakau di perairan Pantai Perawan dengan menyewa jasa nelayan dan perahu atau sampan dengan hanya seharga Rp 35.000,-
 
Berlayar
Bias Cahayan menembus jajaran Bakau
Usai sudah dan sekitar pukul sepuluh kami berlayar kembali menuju Muara Angke.

Beginilah setidaknya saya bisa mewarnai hidup saya, hal yang sederhana namun menyenangkan bagi saya.
One Big Smile

Menghidupi Hidup dengan Kehidupan.

Selasa, 05 Mei 2015

First Timer : Gunung Batu

Gunung Batu, Sabtu 2 Mei 2015

Libur panjang di Jakarta dengan budget serba terbatas memang menyebalkan. Anyway, meskipun budget tak terbatas kalau pilihan yang tersedia hanya liburan di seputaran Kota Jakarta dan sekitarnya memang akan tetap membosankan. Belanja? Nonton? Clubbing? Ah saya terlalu "kampungan" untuk melakukan hal itu terus menerus.
1 Mei seperti yang sudah diketahui merupakan hari Buruh. Namun, entah bagaimana kantor tempat saya bekerja merubah May Day menjadi tanggal 2 Mei bertepatan dengan HARDIKNAS dan bertepatan dengan HARPITNAS alias Hari Kejepit Nasional, setidaknya bagi Karyawan di kantor tempat saya bekerja. Mungkin itu juga yang membuat jajaran Direksi "mengalokasikan" hari libur.

Long Story Short, karena sudah terserang semacam Long Weekend Mental Disorder saya dan partner memutuskan untuk mewujudkan keinginan kami untuk mencoba salah satu hobi baru. Hiking. Sebelumnya kami memang berniat untuk melakukan Hiking ke Gunung Bongkok, namun beberapa kali gagal karena cuaca yang tidak mendukung, hingga akhirnya untuk pertama kali kami hanya mampu menjajal kemampuan fisik di Gunung Munara. Hasilnya? Saya menyerah setelah badan saya gemetar saat mencapai puncak Batu  Belah. Memalukan dan memilukan. Sebenarnya saya berencana untuk mengambil Bolos di hari Sabtu (Saat belum tahu menahu masalah "alokasi" hari libur) untuk berangkat ke Gunung Bongkok Purwakarta. Ya tidak perlu ditebak, lagi - lagi gagal.


Jakarta 2 Mei 2015 05.00 AM

Setelah shalat Subuh akhirnya dengan bermodal tenda Dome pinjaman, kami berdua berangkat menuju Gunung Batu yang kami tidak tahu menahu di mana tempatnya. Yang kami tahu hanya Jonggol dan Cariu, itu saja. Dengan bermodal petunjuk dari beberapa blogger dan bantuan dari Here Drive di ponsel Lumia 730 yang saya miliki, akhirnya kami memberanikan diri untuk menembus jalanan.

Saya tidak akan menerangkan bagaimana cara menuju ke sana karena saya tidak bisa mengingat jalan mana belokan mana dan daerah mana yang sudah kami lalui. Yang saya ingat hanyalah kami dari Cijantung, Pasar Rebo menuju ke arah Cibubur Junction lalu ke Buperta dan seterusnya hingga kami menuju Jonggol. Jalanan di daerah Jalan Cileungsi tidak begitu bersahabat, banyak lubang di sana sini. Beberapa kali motor yang kami tunggangi mengalami guncangan hebat.

Setelah melewati jalan menanjak yang penuh dengan rimbun hutan.
Yang bisa saya ingat dan sangat membekas di perjalanan menuju Gunung Batu adalah ketika memasuki perkampungan dan kami harus melewati sekitar dua puluh kilo meter jalanan yang menanjak dipenuhi hutan dan di beberapa kilo terakhir jalanan mulai tak bersahabat. Hingga akhirnya kami tiba di ujung tanjakan dan jalan mulai menurun curam sepanjang beberapa ratus meter.


Petunjuk terakhir yang kami lihat.
Inilah petunjuk terakhir yang kami temui dan yang sempat saya ambil setelah kami meluncur di turunan panjang. Awalnya kami sedikit tidak yakin saat memilih jalan di salah satu pertigaan, karena ternyata Gunung Batu ada tiga yaitu Gunung Batu 1, 2 (Satu Arah) dan Gunung Batu 3 yang berbeda arah. Tapi setelah kami melihat Gunung yang terlihat dari jauh itu-yang ternyata Gunung Batu 1- kami yakin karena bentuknya sama dengan yang sudah kami lihat di beberapa halaman blogger sebelumnya.

Akhirnya tak berapa lama setelah petunjuk terakhir yang bertuliskan Gunung Batu, Suka Makmur tersebut dan melewati perkampungan, kamipun tiba di pintu masuk area Gunung Batu yang di dalamnya sudah ada beberapa motor terparkir dan terlihat beberapa pendaki Gunung Batu yang sudah turun. Harga Tiket masuk terbilang cukup murah, yaitu Rp. 10.000,- untuk Pengunjung/Pendaki dan Rp. 20.000,- untuk pengendara motor yang nge-camp sedangkan mobil Rp. 40.000,-

Menuju Titik Pendakian Pertama
Dari pintu masuk menuju titik pendakian ternyata kami harus berjalan terlebih dahulu hingga menemukan sebuah warung di perempatan jalan setapak. Di sanalah perjalanan mendaki dimulai. Dari awal pendakian ternyata tidak seperti saat saya naik di Munara, mungkin karena tenaga sudah terlanjur terpakai saat menuju titik pendakian pertama.
Menjinjing Tenda Pinjaman
Berhenti Sejenak
Sejak awal menapaki garis tanah yang diagonal ternyata benar - benar membuktikan bahwa untuk melakukan hobi seperti ini butuh ketahanan fisik dan persiapan yang cukup. Bagi amatir seperti saya sepertinya rutinitas yang sudah dua minggu ini saya jalani untuk melakukan lari pagi setiap hari cukup membantu.
Tiga Tanjakan Terakhir
Dan seperti dugaan saya, walau awalnya saya merasa optimis, namun rasa takut akan ketinggian kembali menyerang. Tepatnya di tiga tanjakan terakhir. Di tanjakan pertama dari tiga tanjakan terakhir saya mulai merasakan detak jantung yang semakin cepat, apa lagi saat saya mendongak melihat puncak dan memperhatikan beberapa orang yang bergantian antara yang turun dengan beberapa orang yang naik. Perasaan semangat dan takut bercampur menjadi satu, terlebih ketika saya mulai menanjaki tanjakan pertama yang hanya tersedia beberapa cekungan di tanah dan tali tambang sebagai pegangan. Untuk dua tanjakan selanjutnya terasa lebih mudah karena ada beberapa batu yang bisa dijadikan sebagai pijakan selain tambang yang bisa dijadikan sebagai pegangan.
Terbayar
Tidak ada bayangan untuk menyerah, meski berkali - kali saya harus meyakinkan diri saya sendiri bahwa rasa takut itu hanya ada di kepala saya saja.
 
Salah Satu Motivasi
Dengan berbekal sedikit keberanian dan juga ditambah keinginan untuk melakukan selfie di puncak Gunung Batu.

There I was!!! Akhirnya saya tiba di atas.
 
Tantangan terberat dalam kehidupan bukanlah menjalani.
Tapi bermimpi, lalu memulai untuk mewujudkannya.
Dari hal sekecil apapun, lakukanlah!
Karena tidak akan ada buah dan pohon yang rindang, tanpa diawali oleh tunas yang kecil.

Satu hal yang selalu saya ingat. Entah siapa yang mengatakannya.
"Kalau Mimpimu belum ditertawakan orang lain, berarti mimpimu kurang BESAR."


Salam Hangat.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Tentang Boss : Gertakan Sambal

Bukan Boss gue namanya kalau setiap hari dia gak bikin ulah. Ada aja hal yang selalu dia komentarin dan dia hujat tiap harinya. Mulai dari tanya keberadaan karyawan yang sedang keluar dan setelah itu dia akan berkomentar jelek tentang karyawan itu, sampai menjelekan salah satu dari jajaran management yang kalau balik kantor selalu on time.

"Salah siapa lo berangkat siang mulu!" Dalam hati gue menyalahkan si boss.

Gilanya lagi, bukan cuma masalah "talking behind the wall" yang menjadi penyakit si boss. Ada penyakit lain yang bikin gue dan seisi kantor lebih risih lagi. Membayangkan apa yang sebenarnya dia bicarakan tentang gue di belakang, kini bikin gue makin gak yakin kalo Boss gue itu adalah contoh panutan.

Suatu hari...

Kedatangannya seperti biasa di siang hari yang sudah melewati jam makan siang, seolah menyebarkan aura negatif yang sangat mencekam.

"Ano mana?" Tanyanya dengan nada tenor yang lebih mirip dengan kucing yang sedang mengerang akibat terjepit pintu.
Ano adalah seorang teknisi yang hari ini ditugaskan untuk membantu salah satu proyek pengerjaan kantor di bilangan Mayestik, Jakarta Selatan.

"Belum datang pak." Ujar Badar seorang sales baru yang dipekerjakan sebagai PM karena kantor gue kali ini kekurangan Project Manager untuk berbagai project pemerintahan yang sedang berjalan.

"Belum datang? Gimana sih tuh anak. Bisa kerja gak? Maukerja gak kalo gak becus pecat aja!" Seperti biasanya, dia berkoar sambil berlalu menuju ruangannya.

Gue gak heran kenapa dia tampak semarah itu, karena hari sebelumnya Ano pernah "menantang" si boss yang sok tahu itu dengan mendebat masalah proyek.

Hari sebelumnya...

"No! Ngapain kamu masih di sisni?" Tanyanya dengan suara keras seolah ingin semua gedung tahu dia adalah tipe atasan yang dia sendiri menyebutnya "tegas".
"Nunggu buat material pak." Jawab Ano santai.
"Material apa? Kan udah siap semua di sana! Berangkat aja." Sanggahnya sok tahu.
"Material mana yang siap?" Kali ini sepertinya Ano sudah jengah dengan nada suara tinggi si boss, sama seperti gue.
"Aaah udalah susah tau lah!" Yak, itulah tanda dari kalahnya si boss saat berdebat.

Kembalike hari ini...

Sekitar jam 4 sore sang Komisaris datang untuk memeriksa keadaan kantor. Entah apa yang dia bicarakan dengan si boss hingga saat keluar Sang Komisaris berkoar.

"Ano , mana? Suruh dia ke sini saya tunggu sampai jam berapapun." Ujarnya geram. Gue, Vita dan Melly saling bertatapan mempertanyakan ada apa sebenarnya yang terjadi.

Saat gue akan pulang Ano tak kunjung datang. Akhirnya gue pulang tanpa tahu apa yng terjadi berikutnya.

Hari berikutnya...

Pagi yang tenang berubah menjadi kelam. Kali ini si boss secara tiba - tiba datang sedikit pagi, sekitar jam 10.
"Ano mana?" Lagi - lagi dengan volume suara yang dengan sengaja dinaikkan.
"Belum datang." Ujar Melly tanpa memalingkan wajahnya dari komputer.
"Jam segini belum datang? Jam berapa ini? Ini udah siang loh!" Dengan sok.
"Elo apa kabar?" Kata - kata itu terkunci di tenggorokan gue. Vita hanya melirik gue dan memutarkan bola matanya tanda jengah dengan ucapan Si Boss.
"Emang dia pikir di siapa? Saya pecat juga dia hari ini. Kalo dia datang suruh menghadap saya!" Entah dibuat - buat atau memang jengah.

Sekitar jam sebelas, Ano datang dengan muka datar seperti biasanya. Bagaimana bisa, hebat juga Ano ini, meski menurut Ibu Nurma yang merupakan Admin dan juga HRD itu, bahwa gaji Ano ditahan oleh Si Boss ,tapi dia masih tenang, atau lebih tepatnya datar.

"No dicariin Si Boss noh." Ujar Ibu Nurma. Tanpa berkata apapun Ano berlalu dan menuju ruangan Si Boss.
"Ada apa?" Tanpa sapaan tanpa basa - basi Ano langsung bertanya. Saat itu gue gak dengar ada jawaban dari Si Boss, dia hanya melangkah keluar dari ruangannya dan berdiri menghadap Ano di depan pintu ruangannya.
"Kamu hari ini ke proyek kan?" Tanya Si Boss tapi nadanya terdengar begitu biasa, tidak seperti orang yang sedang marah dan mau memecat karyawannya.
"Iya." Jawab Ano singkat.
"Oh ya sudah, tolong segera diselesaikan ya No." Ujarnya sambil berlaru ke luar kantor, tubuhnya hilang entah ke mana.

Gue cuma bisa mengernyitkan dahi mendapati apa yang baru saja gue lihat. Gue bergantian saling pandang dengan Vita yang mencibir jengah dengan nyiyiran di bibirnya. Seriously? Dia seperti mempecundangi dirinya barusan.